Ahlan Wa Sahlan

siapapun anda bisa mengikuti bisnis sampingan yang kami tawarkan,berupa investasi dan juga nge klik iklan dapat duit.berkenaan dengan posting,anda dilarang copy paste dari blog ini,hanya boleh share dari facebook.

Rabu, 07 November 2012

**Nikahi Aku**


JIKA MEMANG SERIUS & KSATRIA, NIKAHI atau SUDAHI..!

1001 ALASAN bisa dikarang oleh yg pacaran untuk nyatakan keseriusan, bagi yg serius benar, hanya 1 kalimat buktikan
"SAYA TERIMA NIKAHNYA.." MUNGKIN betul bahwa pacaran itu saling mengena
l, mengenali tubuh pasangan dan mengenal apa itu MAKSIAT...

Dari alasan semangat belajar sampai jalin silaturahim, whatever, ujung-ujungnya pacaran tetap berorientasi pada kenikmatan fisik.
Dia bilang sayang karena kamu masih turuti maksiatnya, bila sudah tak mau, tak berat dia tinggalkan, karena pacaran tak perlu komitmen. Dia bilang sayang sama kamu? berkali-kali kejadian namun tak ada yg ambil pelajaran, talk is cheap! nikah baru sip!

Karena syahwat pasti mewujud pada lelaki, YANG TAAT ALLAH PENUHI ITU DENGAN PERNIKAHAN, YANG MAKSIAT PENUHI ITU DENGAN PACARAN.

Pernikahan itu perlu komitmen, perlu keseriusan dan perlu ilmu agama. Lelaki yang tiada lulus syarat-2 itu masuk jurusan pacaran
sakit hati saat putus, janji-rayuan nya masih terngiang di kepalamu... kubilang itu salahmu sendiri, pacaran tiada didisain untuk komitmen

Putuskan pacar memang sulit, tetap pacaran pun satu saat pasti sakit, PILIH SAJA, SULIT karena TAAT atau SAKIT karena MAKSIAT?

MAKA beritahukan kepada pacarmu sekarang juga, bila memang serius dan ksatria, nikahi atau sudahi....

**Fatimah Az-Zahra**


...Fatimah Az-Zahra Wanita Teladan Umat Islam...

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ...Uswah Islam dengan sosok wanita teladan.
Beliaulah puteri kesayangan Rasululah, Fatimah Az-zahrah yang menikah dengan Ali bin Abi Thalib.

Beliau memilih hidup sederhana daripada bergelimang harta dunia meskipun beliau termasuk dalam golongan yang mampu. Beliau melakukan itu semua demi menghindari sifat mendewakan dun
ia.

Dalam sebuah hadits ada yang meriwayatkan bahwa Fatimah Azzahrah adalah bagian dari Rasulullah SAW, dari itu siapa saja yang menyakitinya berarti dia telah menyakiti juga Rasulullah SAW.

Begitu juga sebaliknya,bagi siapa saja yang membuatnya gembira, maka ia telah emmbahagiakan Rasululah SAW. Begitu sangat sayangnya Rasulullah SAW kepada puterinya yang satu ini.

Fatimah Azzahrah dikenal sebagai seorang wanita teladan, fasih dan pintar. Ia banyak sekali meriwayatkan hadits dari ayahnya kepada putranya Hasan dan Husein. Dan mungkin ini merupakan salah satu alasan kenapa Rasululah SAW menyayangi Fatimah Azzahrah, karena di kemudian hari Fatimah Azzahrah telah banyak membantu umat islam dalam hal hadits yang shahih.

Bukan saja hanya menularkan haditsnya kepada anak-anaknya, namun Fatimah Azzahrah ini juga banyak memberikan hadits dan disampaikan kepada suaminya, Aisyah, Ummu Salamah, Salma Ummu Rafi' dan Anas bin Malik.

Beliaulah salah satu wanita teladan umat islam karena beliau yang paling dekat dan paling lama bersama Nabi Muhammad SAW. Di kalangan penganut Syiah, beliau dan Ali bin Abi Thalib dianggap sebagai ahlul Bait (pewaris kepemimpinan) Nabi Muhammad SAW.

Hidup Sederhana.
Fatimah dilahrikan di Makkah pada 20 Jumadil Akhir, 18 tahun sebelum Nabi Muhammad SAW hijrah atau di tahun ke lima dari kerasulannya. Dia adalah putri bungsu Nabi Muhammad SAW setelah Zainab, Ruqayah dan Ummu Kaltsum. Saudara laki-lakinya yang tertua adalah Qasim dan Abdullah, meninggal dunia pada saat usia muda.

Setahun setelah hijrah, Fatimah dinikahkan dengan Ali bin Abi Thalib. Banyak yang ingin menikahinya waktu itu, maklum saja beliau ini adalah seorang wanita yang rupawan, cantik jelita lagi terhormat, puteri Rasulullah SAW lagi.
Dia pernah hendak dilamar oleh Abu Bakar dan Umar, keduanya sahabat Nabi Muhammad SAW, namun ditolak dengan halus oleh Rasulullah SAW.

Sementara itu, Ali bin Abi Thalib tidak berani melamar Fatimah karena kemiskinannya. Namun, Nabi Muhammad SAW mendorongnya dengan memberi bantuan sekedarnya untuk persiapan rumah tangga mereka.
Mas kawinnya sebesar 500 dirham (setara dengan 10 gram emas), sebagian diperolehnya dengan menjual baju besinya.

Nabi Muhammad SAW memilih Ali sebagai sumai Fatimah karena ia anggota keluarga yang sangat arif dan terpelajar, di samping merupakan orang pertama yang memeluk islam.

Ketika sudah menjadi istri Ali bin Abi Thalib, Fatimah Az-Zahra hidup sederhana bahkan sering kekurangan. Telah beberapa kali beliau harus menggadaikan barang keperluan rumah tangga, bahkan hingga kerudung beliau juga ikut terjual hanya untuk memperoleh makanan.

Namun, mereka tetap bahagia dan lestari sebagai suami istri hingga akhir hayat.
Semasa hidupnya, Fatimah Az-Zahra dapat saja hidup dengan mudah bahkan dengan harta melimpah karena beliau adalah puteri Nabi Muhammad SAW.
Namun hal itu tidak beliau lakukan.

Wallahua’lam bish Shawwab ....
Barakallahufikum ....

... Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati kita yang telah lama terkunci ...

~ o ~

Salam santun dan keep istiqomah ...

**Bidadari**


"AKU TAK MENCARI YANG TAMPAN WAJAHNYA"


Aku tak mencari seorang suami yang tampan wajahnya. Atau yang tegap badannya.

Aku juga tak mencari seorang suami yang kaya harta. Atau yang punya rumah mewah dan mobil banyak.

Aku hanya mencari seorang laki-laki yang benar-benar telah siap menjadi Imamku.

Ya... Hanya mencari seorang Imam.
Yang dapat membimbingku dalam urusan Dunia dan Akhirat.

Yang dapat menuntunku ke arah yang benar.

Yang bisa mengingatkanku ketika aku lalai dalam melaksanakan dan menjalankan perintah-Nya.

Yang bisa menyadarkanku ketika aku berbuat khilaf.

Yang bisa meluruskan akalku dengan penuh kelembutan.

Yang bisa menegurku ketika aku alpa pada tanggung jawab dan kewajibanku
sebagai seorang Isteri yang wajib taat pada suami dan Rabb-Nya.

Yang bisa memaafkanku dengan ikhlas atas segalan salah dan khilafku.

Agar kelak keluarga yang aku bina bersama dia menjadi keluarga yang Sakinah, Mawaddah, Warahmah.

Itu saja.

Sederhana bukan?

Hal terindah dari seorang wanita adalah bukan saat ia tersenyum bahagia,
tapi saat butiran air matanya terjatuh saat berdoa...

Bukan karena kecantikan yang mempesona,
tapi karena sujud rukunya yang tiada henti...

Atau bukan kerana keelokan tubuh yang di pamerkan,tapi kerana keteguhan IMAN nya dalam menjaga auratnya...

Maka ia adalah permata yang dirindukan dan embun yang di nantikan...
Bahkan bidadari pun cemburu
kerananya....

SUBHANALLAH.

**Jihad Para Ibu**


..Jihad Para Ibu Dalam Pandangan Islam...

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ...Islam mengajarkan bahwa kaum ibu merupakan fihak yang sangat istimewa dan tinggi derajatnya. Oleh karena itu kita sangat akrab dengan hadits yang menjelaskan keharus
an seorang sahabat agar memprioritaskan berbuat baik kepada ibunya. Bahkan Nabi shollallahu ‘alaih wa sallam menyebutkan keharusan tersebut sebanyak tiga kali sebelum beliau akhirnya juga menganjurkan sahabat tadi agar berbuat baik kepada ayahnya. Jadi ibaratnya keharusan menghormati dan berbuat baik seorang anak kepada ibunya sepatutnya lebih banyak tiga kali lipat daripada penghormatan dan perilaku baiknya terhadap sang ayah.

Bahaz Ibnu Hakim, dari ayahnya, dari kakeknya Radliyallaahu ‘anhu berkata: Aku bertanya: Wahai Rasulullah, kepada siapa aku berbuat kebaikan?. Beliau bersabda: “Ibumu.” Aku bertanya lagi: Kemudian siapa?. Beliau bersabda: “Ibumu.” Aku bertanya lagi: Kemudian siapa?. Beliau bersabda: “Ibumu.” Aku bertanya lagi: Kemudian siapa?. Beliau bersabda: “Ayahmu, lalu yang lebih dekat, kemudian yang lebih dekat.” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi)

Kita juga sangat akrab dengan hadits yang menyebutkan beberapa dosa besar dimana salah satunya ialah durhaka kepada kedua orangtua, yaitu ayah dan ibu. Di antaranya disebutkan sebagai berikut:

Dari Anas ia berkata: Nabi shollallahu ‘alaih wa sallam ditanya mengenai dosa-dosa besar, maka beliau bersabda: “Mempersekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang-tua, membunuh jiwa dan kesaksian palsu.” (HR Bukhary)

Bahkan di dalam hadits lainnya disebutkan bahwa kedua orang-tua merupakan faktor yang sangat besar mempengaruhi apakah seseorang bakal menuju ke surga ataukah ke neraka. Artinya, perilaku baik seseorang kepada kedua orang-tuanya bakal memperbesar kemungkinannya berakhir di dalam rahmat Allah dan surga-Nya. Sedangkan kedurhakaannya kepada kedua orang-tua bakal memperbesar kemungkinan hidupnya berakhir di dalam murka Allah dan neraka-Nya.

Dari Abi Umamah ia berkata: “Ada seorang lelaki berkata: “Ya Rasulullah, apakah hak kedua orang-tua atas anak mereka?” Rasulullah shollallahu ‘alaih wa sallam bersabda: “Keduanya (merupakan) surgamu dan nerakamu.” (HR Ibnu Majah)

Hal ini sejalan dengan hadits berikut ini: Dari Abdullah Ibnu Amar al-’Ash Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Keridhaan Allah tergantung kepada keridhaan orang tua dan kemurkaan Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua.” (HR Tirmidzi)

Namun yang menarik ialah ditemukannya hadits yang secara khusus mengungkapkan haramnya durhaka kepada sang ibu. Sedangkan hal ini tidak kita temukan dalam kaitan dengan larangan berlaku durhaka kepada sang ayah. Sudah barang tentu ini tidak berarti bahwa berlaku durhaka kepada fihak ayah dibenarkan. Yang jelas dengan adanya larangan khusus berlaku durhaka kepada fihak ibu cuma menunjukkan betapa ajaran Islam sangat menjunjung tinggi martabat kaum ibu.

Bersabda Nabi shollallahu ‘alaih wa sallam: “Allah melarang kalian durhaka kepada ibu kalian.”(HR Bukhary)

Dalam hadits lain kita juga dapati bagaimana Islam menyuruh menghormati ibu sekalipun ia bukan orang beriman seperti hadits yang diriwayatkan oleh Asma puteri sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq berikut ini:

Asma binti Abu Bakar berkata: “Telah datang kepadaku ibuku dan dia seorang wanita musyrik di zaman Rasulullah shollallahu ‘alaih wa sallam. Maka aku datang kepada Rasulullah shollallahu ‘alaih wa sallam meminta fatwa beliau. Aku bertanya kepada beliau: “Telah datang kepadaku ibuku sedangkan ia punya suatu keperluan. Apakah aku penuhi permintaan ibuku itu?” Maka Nabi shollallahu ‘alaih wa sallam bersabda: “Iya, penuhilah permintaan ibumu itu.” (HR Bukhary)

Mengapa kaum ibu sedemikian diutamakan? Karena mereka adalah fihak yang sejak masih mengandung anak saja sudah merasakan beban memikul tanggung-jawab membesarkan anak-anaknya. Mereka adalah pendamping, penyayang, pengasuh dan pengajar pertama dan utama bagi seorang anak. Ibu adalah fihak yang paling banyak direpotkan oleh anak semenjak mereka masih kecil. Begitu lahir anak menuntut air susu ibunya. Keinginan minum ASI seringkali tidak pandang waktu. Bisa jadi seorang ibu di tengah malam “terpaksa” bangun mengorbankan waktu istirahatnya demi menyusui buah hatinya.

Seorang ibu juga direpotkan ketika anaknya ngompol dan buang air besar. Ibulah yang biasanya harus mencebok dan membersihkan anaknya. Semakin ikhlas seorang ibu mengerjakan semua aktifitas tadi maka semakin melekatlah si anak kepada dirinya. Di balik segala kerepotan tadi sesungguhnya terjalinlah ikatan hati yang semakin kokoh antara ibu dan anak. Itulah sebabnya ketika seseorang sudah dewasa sekalipun, tatkala dalam kesepian tidak jarang rasa rindu akan belaian tangan ibunya yang penuh kasih sayang terkenang kembali.

Dalam pepatah Arab ada ungkapan berbunyi Al-Ummu madrasah (ibu adalah sekolah). Benar, saudaraku. Seorang ibu merupakan sekolah pertama bagi setiap anak. Ibulah yang pertama kali mengajarkan banyak pelajaran awal tentang kehidupan kepada anak. Apalagi di zaman penuh fitnah seperti sekarang dimana al-ghazwu al-fikri (perang pemikiran/ perang budaya/ perang ideologi) datang menyerbu rumah-rumah kaum muslimin. Serbuan itu datang dari berbagai penjuru. Bisa dari televisi, internet, facebook, buku bacaan, komik, majalah, nyanyian, musik, pergaulan bahkan dari sekolah formal…! Maka kehadiran seorang ibu yang memiliki wawasan pengetahuan luas menjadi laksana penjaga benteng terakhir bagi anak-anaknya. Ibulah yang bertugas membentengi, memfilter dan mengarahkan anak-anak menghadapi berbagai serbuan perang budaya tadi.

Di masa kita dewasa ini saat mana faham ateisme, materialisme, sekularisme, liberalisme dan pluralisme begitu dominan mewarnai kehidupan masyarakat dunia, maka kehadiran seorang ibu sendirian mendampingi anak-anaknya kadang dirasa kurang memadai. Sehingga kerjasama antara ayah-mukmin dan ibu-mukminah sangat diperlukan. Dalam dunia modern anak-anak kita sangat perlu pengarahan yang sangat kokoh dan kompak dari kedua orang-tuanya sekaligus untuk meng-counter serangan musuh-musuh Islam yang pengaruh buruknya semakin hari semakin hegemonik.

Betapapun, seorang ayah tidak mungkin diharapkan untuk terus-menerus berada di rumah karena tuntutan mencari ma’isyah (penghasilan) bagi anak-isterinya. Oleh karenanya kehadiran dan keaktifan peran seorang ibu di rumah mendampingi anak-anaknya menjadi sangat strategis. Oleh karenanya Nabi shollallahu ‘alaih wa sallam menyetarakan hadir dan aktifnya seorang ibu mendampingi anak-anaknya di rumah dengan aktifitas jihad fi sabilillah yang dilakukan oleh kaum pria di medan perang menghadapi musuh-musuh Allah.

Dari Anas Radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Kaum wanita datang menghadap Rasulullah shollallahu ‘alaih wa sallam bertanya: “Ya Rasulullah, kaum pria telah pergi dengan keutamaan dan jihad di jalan Allah. Adakah perbuatan bagi kami yang dapat menyamai ‘amal para mujahidin di jalan Allah?” Maka Rasulullah shollallahu ‘alaih wa sallam bersabda: “Barangsiapa di antara kalian berdiam diri di rumahnya maka sesungguhnya ia telah menyamai ‘amal para mujahidin di jalan Allah.” (HR Al-Bazzar)

Wallahua’lam bish Shawwab ....
Barakallahufikum ....

... Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati kita yang telah lama terkunci ...

~ o ~

Salam santun dan keep istiqomah ...

--- Jika terjadi kesalahan dan kekurangan disana-sini dalam catatan ini ... Itu hanyalah dari kami ... dan kepada Allah SWT., kami mohon ampunan ... ----

Semoga bermanfaat dan Dapat Diambil Hikmah-Nya ...

**Ibu**


...Adakah Surga Masih Di Telapak Kaki Ibu?...

Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ...Betapa mulianya seorang ibu. Karena seorang ibu itu, mengandung, melahirkan, merawat, membesarkan, mendidik, dan mencarikan jodoh anak-anaknya. Begitu besarnya pe
ranan ibu dalam keluarga. Begitu mulianya seorang ibu.

Hanya ibu-ibu sekarang sudah berubah. Mungkin lebih memilih karir. Dibandingkan dengan memilih keluarga dan anak-anak. Sudah jarang ibu-ibu menyusui anaknya sampai dua tahun. Anak-anak sekarang sudah jarang mendapat dekapan ibunya. Selama dua tahun. Terkadang baru tiga bulan. Bayinya sudah diserahkan kepada si-inem. Si inem menjadi ibunya. Bayi mungil itu menjadi bayinya si-inem, dan minum susu bubuk sapi.

Anak-anak tumbuh hasil rawatan si-inem. Ibunya hanya bertemu anak-anaknya paling lama tiga jam setiap harinya. Wanita karir. Umumnya berangkat pagi pulang larut malam. Ketika berangkat anak-anaknya belum bangun. Ketika pulang anak-anaknya sudah tidur. Tak ada waktu bagi anak-anaknya. Karir lebih penting dibandingkan anak-anaknya.

Hanya dengan menggaji si-inem Rp 2-3 juta tiap bulan, ibunya sudah merasa cukup perhatiannya terhadap anak-anaknya. Terkadang ibu-ibu yang sibuk dengan karirnya, itu melampiaskan perasaannya terhadap anak-anaknya diajak jalan-jalan ke mall, diajak makan, dibelikan mainan, atau pergi berlibur dengan suaminya. Mungkin suaminya juga tak sempat, karena sibuk.

Tetapi, yang membuat hati menjadi trenyuh, sedih, dan iba, sekarang ada peran ibu, yang belum pernah terjadi sebelumnya, yaitu menjadi : “koruptor”.

Ibu-ibu sekarang bukan hanya menjadi wanita karir, tetapi sudah bertambah perannya, menjadi “koruptor”. Membantu suaminya yang juga koruptor. Idola ibu-ibu tentang Raden Ajeng Kartini, sudah tidak zamannya lagi. Sudah kuno. Raden Ajeng Kartini itu, hanya sebuah mitos, masa lalu belaka. Kartini baru, adalah "Kartini korup".

Ada Nunun Nurbaiti, yang menyogok 30 anggota DPR, saat pemilihan Gubernur Senior Bank Indonesia, Miranda Gultom dengan travel cheque, senilai Rp 24 miliar. Ada Neneng Sri Wahyuni, yang baru menjejakkan kaki di Jakarta, sesudah suaminya Nazaruddin, hanya di vonis 4 tahun penjara. Ada Angelina Sondakh, yang pernah menjadi Puteri Indonesia, dan terlibat dalam korupsi di berbagai lembaga pemerintah bersama Nazaruddin. Ada Wa Ode Nurhayati, yang sudah menjadi tersangka, terkait dengan proyek di Kementrian Transmigrasi. Ada pula Layla, isteri Ketua Umum, Partai Demokrat, Anas Urbaningrum, yang sudah diperiksa oleh KPK, terkait dengan dugaan korupsi, yang dijalankan oleh Nazaruddin. Banyak lagi mereka. Tidak dapat disebut semua.

Tetapi, masih ada tokoh ibu alias perempuan yang ditangkap waktunya bersamaan dengan Neneng, isteri Nazaruddin, yaitu Sherny Kojongian, dan dia berada di Amerika Serikat selama 10 tahun. Mungkin ini satu-satunya ibu alias perempuan Indonesia, yang berhasil melarikan diri ke luar negeri dalam waktu yang sangat lama. Sherny menggelapkan dana KLBI (Kredit Likuiditas Bank Indonesia), senilai Rp 1,95 triliun.

Bayangkan peranan Nunun, bisa menebarkan travel cheque senilai Rp 24 miliar, Wa Ode mendapatkan “fee” Rp 6 miliar, hanya dalam satu proyek. Angelina Sondakh, mendapatkan uang sogokan Rp 5 miliar. Entah Layla yang menjadi komisaris sebuah perusahaan? Tetapi, yang mencapai rekor adalah Sherny Kojongian, menggelapkan uang KLBI senilai Rp 1,95 triliun.

Ibu-ibu sekarang menikmati dan penikmat kehidupan duniawi. Gaya hidup mereka sudah melibihi artis-artis pop dan selibritis di Barat. Bayangkan, bagaimana belanja Wakil Sekjen Partai Demokrat, dan anggota DPR, Angelina Sondakh, konon belanjanya melalui online, menghabiskan milyaran rupiah, hanya dalam waktu satu hari.

Mereka ibu-ibu yang sangat “powerfull”, tak bergantung kepada suami. Bahkan, suaminya hanya menjadi status belaka, bahwa si ibu itu mempunyai suami. Selebihnya, suaminya itu, tak memiliki fungsi apapun.

Ada sebuah kisah. Seorang ibu menjadi “CEO” sebuah perusahaan oil, dan kebetulan suaminya menjadi bawahannya. Dalam setiap rapat suaminya, sering dimarahi di depan stafnya. Sungguh malang nasib suaminya. Suaminya sering ditinggal pergi keluar negeri, bersama dengan bosnya. Bahkan, cerita sopir ibu “CEO” itu, kalau pulang, suaminya disuruh membukakan sepatunya, dan suaminya disuruh memijitinya.

Pantas kalau ada hadist, di mana penghuni neraka itu, lebih banyak kaum ibu. Karena peranan mereka, ketika masih ada di dunia. Ibu bukan lagi menjadi panutan, teladan, dan guru, tetapi sekarang menjadi pelaku : “korupsi”.

Dulu di zaman rezim Soeharto, dikenal dengan “Madame ten percent” (Nyonya 10 persen), itu julukan bagi Ibu Tien Soeharto. Sejatinya, bukan Soeharto yang berkuasa selama tiga dekade, yang konon yang benar-benar “power full” itu, Ibu Tien. Suaminya, Soeharto, hanya menjadi boneka.

Di Tunisia, Layla isteri Presiden Zainal Abidin, yang sangat terkenal, dan dulunya hanya seorang waiters di tempat salon, tetapi ketika menjadi isteri Zainal Abidin begitu berkuasa, dan mengendalikan suaminya. Saat menjelang kejatuhan Abidin, isterinya memerintahkan Zainal Abidin, mencairkan 70 ton emas dari Bank Central Tunisia. Ini sungguh-sungguh kejadian.

Ooh .. ibu? Di mana engkau sekarang berada? Adakah surga masih berada di telapak kakimu .. ibuu?

Wallahua’lam bish Shawwab ....
Barakallahufikum ....

... Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati kita yang telah lama terkunci ...

~ o ~

Salam santun dan keep istiqomah ...